China masih menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Dari produk elektronik, tekstil, mesin, hingga kebutuhan sehari-hari, mayoritas pelaku bisnis di Indonesia sering mengandalkan impor dari Negeri Tirai Bambu. Namun, proses impor tidak sesederhana membeli barang online. Ada dokumen, prosedur bea cukai, hingga strategi logistik yang perlu dipahami agar barang masuk ke Indonesia dengan lancar dan efisien.
Tren Impor dari China
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia dari China terus menempati posisi teratas dengan kontribusi lebih dari 30% total impor nasional. Produk unggulan yang paling banyak masuk meliputi:
- Elektronik & komponen ponsel.
- Mesin industri & peralatan manufaktur.
- Tekstil dan produk fashion.
- Barang konsumsi sehari-hari.
Berita internasional juga mencatat bahwa China kini memperkuat posisinya sebagai pusat distribusi global dengan efisiensi logistik tinggi dan biaya produksi kompetitif (CNBC: China Trade Data).
Prosedur Bea Cukai Impor dari China
Setiap barang impor yang masuk ke Indonesia wajib melewati prosedur bea cukai. Beberapa langkah utama adalah:
- Registrasi Importir – pastikan Anda memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) yang terdaftar di OSS (Online Single Submission).
- Dokumen Impor – siapkan dokumen seperti Invoice, Packing List, Bill of Lading/Airway Bill, dan Certificate of Origin.
- Pengajuan PIB (Pemberitahuan Impor Barang) – melalui sistem bea cukai Indonesia.
- Pemeriksaan Bea Cukai – barang bisa masuk jalur hijau (langsung keluar), kuning (pemeriksaan dokumen), atau merah (pemeriksaan fisik).
- Pembayaran Bea Masuk & PPN – dihitung berdasarkan HS Code dan nilai barang.
Tips: pastikan HS Code yang digunakan benar agar terhindar dari denda atau keterlambatan clearance.
Jalur Laut vs Jalur Udara
Untuk impor dari China ke Indonesia, ada dua jalur utama:
1. Jalur Laut (Sea Freight)
- Kelebihan: biaya lebih murah, cocok untuk barang dalam jumlah besar atau container penuh (FCL) maupun sebagian (LCL).
- Kekurangan: waktu pengiriman lebih lama, rata-rata 15–30 hari tergantung pelabuhan tujuan.
2. Jalur Udara (Air Freight)
- Kelebihan: lebih cepat, cocok untuk barang bernilai tinggi atau urgent. Rata-rata 5–7 hari sampai.
- Kekurangan: biaya lebih mahal dibandingkan jalur laut.
Berita lokal terbaru menyebutkan bahwa pelabuhan utama seperti Tanjung Priok sedang meningkatkan kapasitas digitalisasi layanan untuk mempercepat arus barang impor (Kontan: Digitalisasi Bea Cukai).
Tips Hemat Biaya Impor dari China
- Konsolidasi Kargo – jika volume kecil, gabungkan dengan pengiriman lain untuk mengurangi biaya.
- Bandingkan Jalur Pengiriman – gunakan laut untuk volume besar, udara untuk barang prioritas.
- Gunakan Freight Forwarder Profesional – seperti M2B, yang membantu urus dokumen, clearance, hingga pengiriman ke gudang Anda.
- Negosiasi dengan Supplier – minta Incoterms yang sesuai, misalnya FOB (Free on Board) agar biaya lebih efisien.
- Pantau Kurs Mata Uang – fluktuasi CNY/IDR bisa memengaruhi biaya impor.
Mengapa Impor dengan M2B?
PT. Mora Multi Berkah (M2B) hadir sebagai Logistic | Solution | Partner untuk bisnis Anda. Kami menyediakan:
- Jasa Customs Clearance dengan tim ahli bea cukai.
- Sea Freight & Air Freight Service langsung dari China ke Indonesia.
- Konsultasi HS Code & Regulasi agar bisnis Anda sesuai aturan.
- Door to Door Service dari supplier China ke gudang Anda di Indonesia.
👉 Ingin impor barang dari China dengan mudah dan aman?
Hubungi tim M2B sekarang:
📞 WhatsApp: +62 812 6302 7818 | ✉️ info@m2b.co.id | 🌐 www.m2b.co.id
