Industri freight forwarding alias jasa pengurusan pengiriman barang internasional lagi asyik bergerak cepat dan penuh teka-teki. Di tahun 2025, pasar globalnya diprediksi bakal melompat dari sekitar USD 156,4 miliar (2024) ke angka yang jauh lebih tinggi, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 5% hingga 2034 Global Market Insights Inc.. Namun, biar kata ceritanya menarik, tantangannya juga nyata—tarif berfluktuasi, jalur laut terganggu, dan margin makin tipis. 😅
Para penyedia jasa pengiriman sedang berlomba adopsi teknologi, sistem antifragile (makin kuat saat diguncang), dan jaringan regional yang solid. Faktor e-commerce terus jadi motor penggerak kuat, khususnya di pasar Asia dan APAC Maersk+1.
Pasar Masih Minus Tipis: Singgung Kontraksi Global
Walaupun masih tumbuh jangka panjang, 2025 membawa kabar agak dingin: pasar freight forwarding global diproyeksikan kontraksi sekitar 1,1%, terutama karena tarif tinggi, gangguan di jalur strategis seperti Terusan Panama dan Laut Merah, serta volume ekspor-impor yang goyah mhlnews.com. Asia tetap pahlawan pertumbuhan, Europe mengalami tekanan, sedangkan Amerika Utara bertahan oleh permintaan konsumen yang kuat mhlnews.com.
Tarif Udara Melonjak, Laut Santai—Strategi Pengirim?
Spot rate dari Asia Tenggara ke AS turun sekitar 16% YoY karena kapasitas yang longgar Supply Chain Dive. Seru ya, laut malah reda sementara udara… tembok tarif masih bikin dag-dig-dug. 😬 Menurut laporan Freightos, tarif laut memang turun belakangan, tapi ketidakpastian tarif masih mendominasi pasar Freightos. Tips praktisnya: bandingkan tarif, siapkan buffer waktu & biaya, dan pesan sedini mungkin agar aman dan efisien Freightos.
Global Drama: Ketegangan Perang Dagang & Peluncuran Layanan Baru
Ada tiga headline menarik yang layak disorot:
Berita Freight Forwarding Terkini

Hong Kong’s freight forwarding industry hit by trade war, SCMP reports
Freight Startup Flexport Misses Profitability Target
- Hong Kong Terseret Perang Dagang AS-Cina
Jalur kontainer ke pantai barat AS dibatalkan sekitar 41% di minggu pertengahan Mei 2025, membuat supply chain global terguncang Reuters. - Flexport Tunda Target Profitabilitas
Start-up freight forwarding berbasis teknologi, Flexport, absen dari target keuntungan di 2024 karena permintaan menurun dan gudang banyak yang kosong. Harapan baru: profitabilitas dapat diraih akhir 2025 Wall Street Journal. - CCI Worldwide Logistics Luncurkan “Trans Africa”
Menjawab kebutuhan perdagangan intra-Afrika, layanan ini didukung investasi ₹106 crore untuk memperbaiki efisiensi logistik lintas perbatasan The Economic Times.
Setiap cerita ini nyambung ke inti pekerjaan kita: selalu siaga terhadap ketidakpastian, dan terus adaptif—teknologi atau geopolitik, keduanya ngaruh serius.
Pasar Global: Siapa Saja yang Aktif?
Pemain raksasa dunia seperti DHL, Kuehne+Nagel, DSV, DB Schenker, dan CEVA terus mendominasi dengan jaringan global kuat dan inovasi logistik digital Global Market Insights Inc.. Contoh konkret: DSV telah mencapai kesepakatan akuisisi DB Schenker senilai lebih $12 miliar—langkah jitu untuk jadi penyedia logistik global terbesar Wall Street Journal.
Röhlig Logistics dari Jerman juga rajin ekspansi: membuka cabang di Meksiko, India, AS, serta mendirikan anak perusahaan digital seperti logineer dan cargonerds Wikipedia.
Teknologi & Kolaborasi: Masa Depan Logistics
Kalau kita suka berpikir spekulatif tapi ilmiah:
Bayangkan digital twin—kembaran digital armada logistik yang rancak belajar dari data real-time, lalu optimasi pengiriman berdasarkan multi-modal dan emisi rendah. Ide ini muncul di studi AI terbaru terkait sistem rendah karbon arXiv.
Sementara itu, penelitian lain menggunakan garis logistik hiper-terhubung ala “Physical Internet”: LTL (Less-than-Truckload) operators bisa saling berbagi rute, mengefisiensikan biaya dan mengurangi emisi arXiv. Hebatnya, ada juga pendekatan game teoretis yang membagi keuntungan secara adil via Shapley value agar kolaborasi antara perusahaan forwarding bisa lancar dan win-win arXiv.
Ringkasan Santai Tapi Profitabilitas: Apa Yuk Camkan?
Kalau mau ringkas saja (tapi biar belajar juga seru):
- Pasar freight forwarding global tumbuh jangka panjang (
5 % CAGR), tapi 2025 bersifat agak retraksi (-1,1 %) karena gangguan tarif & rute. - Laut lebih lega tarifnya, udara masih thriller. Pesan dini & fleksibel itu kunci.
- Geopolitik, teknologi, dan adaptasi kemampuan antifragile jadi penentu sukses.
- Pemain raksasa konsolidasi dan digitalisasi, memberi sinyal bahwa kolaborasi dan teknologi bukan sekadar tren, melainkan keharusan evolusi.
- Research AI & logistik kolaboratif menawarkan gambaran masa depan: greener, leaner, smarter.
“Sudah siap melaju dalam arus global dengan aman dan efisien? Hubungi tim M2B sekarang juga untuk konsultasi gratis dan solusi freight forwarding digital, antifragile, dan tailored untuk bisnismu Bersama kita tak hanya mengirim barang—kita kirim masa depan.”
